Kata Pengantar
Puji syukur kami haturkan ke
hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya serta Taufik
dan Hidayah-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan ini dengan baik. Salawat beserta
salam tak lupa kami kirimkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat
manusia dari zaman jahiliyah dan zaman tidak berakhlaq kepada zaman yang
berilmu pengetahuan dan berakhlaq mulia seperti yang kita rasakan pada saat
sekarang ini. Adapun disini kami akan menguraikan tentang berbagai pendekatan
dalam pembelajaran. Akhir kata kami menyadari penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan.
Palopo,
08 Oktober 2014
Kelompok
IV
Daftar Isi
Kata
Pengantar............................................................................................ 1
Daftar
Isi...................................................................................................... 2
Bab I (Pendahuluan)
A. Latar
Belakang Masalah..................................................................... 3
B. Rumusan
Masalah.............................................................................. 4
C. Tujuan
Penulisan................................................................................ 4
D. Manfaat
Penulisan.............................................................................. 4
Bab II (Pembahasan)
A. Pengertian
Pendekatan dalam Pembelajaran...................................... 5
B. Fungsi
Pendekatan dalam Pembelajaran............................................ 5
C. Jenis-Jenis
Pendekatan dalam Pembelaran......................................... 6
Bab III (Penutup)
A. Simpulan............................................................................................ 15
B. Saran.................................................................................................. 15
Daftar
Pustaka............................................................................................. 16
BAB
I
PENDUHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi seperti ini semua aspek kehidupan
dituntut untuk terus maju dan berkembang dengan cepat. Peningkatan kualitas
sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring
dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia
juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan merupakan ujung tombak
dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam
meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan tersebut harus
sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik dapat merima
didikan dengan baik.
Dewasa ini, proses belaja mengajar
di sekolah baik SD, SMP, maupun SMA masih menggunakan paradigma lama, yaitu
didominasi oleh peran dan kegiatan guru, dimana guru yang lebih aktif dalam
mengajar daripada peserta didiknya. Peserta didik hanya mendengarkan penjelasan
yang guru sampaikan. Peserta didik cendrung tidak diajak untuk mengetahui dan
memahami peristiwa dan konsep mengenai materi kurang dikuasai oleh peserta
didik dan peserta didik pun lambat dalam memahami materi pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar mengajar
sangat diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar
tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka
sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid.
Dalam interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara
kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini
selain agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi
menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat
dengan guru yang mengajar.
Sehingga dalam mengajar
diperlukan pendekatan dalam pembelajaran , pendidik harus pandai menggunakan
pendekatan secara arif dan bijaksana. Pandangan guru terhadap anak didik akan
menentukan sikap dan perbuatan.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari pendekatan
dalam pembelajaran ?
2. Apakah fungsi dari pendekatan
dalam pembelajaran ?
3. Bagaimana jenis-jenis pendekatan
dalam pembelajaran ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui pengertian dari
pendekatan dalam pembelajaran.
2. Dapat mengetahui fungsi dari
pendekatan dalam pembelajaran.
3. Dapat mengetahui jenis-jenis
pendekatan dalam pembelajaran.
D.
Manfaat Penulisan
1. Dapat berlatih menggabungkan
hasil bacaan dari berbagai sumber tentang pendekatan dalam pembelajaran dan
mengambil intinya.
2. Dapat membantu guru-guru dalam pendekatan
kepada anak didiknya saat proses pembelajaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan dalam Pembelajaran
Interaksi
dalam pembelajaran adalah bagaimana Cara guru dapat meningkatkan motivasi
belajar dari siswa. Hal ini berkaitan dengan strategi apa yang dipakai oleh
guru, bagaimana guru melakukan pendekatan terhadap siswanya. Dalam sebuah
pembelajaran yang baik guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam
peranannya sebagai pembimbing, guru berusaha menghidupkan dan memberikan
motivasi agar terjadi proses interaksi yang kondusif. Guru sebagai fasilitator,
guru berusaha memberikan fasilitas yang baik melalui pendekatan-pendekatan yang
dilakukan.
Proses
interaksi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa ialah
bagaimana Cara guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan karakter
pembelajaran.
Pendekatan (approach)
pembelajaran adalah Cara yang
ditempuh guru dalam pelaksanaan agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi
dengan sisiwa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak
atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di
dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu.
Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis
pendekatan, yaitu:
1.
Pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada siswa (student
centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru
melakukan pendekatan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan
aktif dalam proses pembelajaran.
2.
Pendekatan pembelajaran yang
berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach), dimana pada pendekatan jenis ini guru menjadi subjek utama dalam proses pembelajaran.
B. Fungsi Pendekatan dalam Pembelajaran
Fungsi pendekatan bagi suatu
pembelajaran adalah :
1.
Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah
metode pembelajaran yang akan digunakan.
2.
Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3.
Menilai hasil-hasil
pembelajaran yang telah dicapai.
5.
Menilai hasil penelitian dan
pengembangan yang telah dilaksanakan.
C. Jenis-Jenis Pendekatan dalam
Pembelajaran
1.
Pendekatan Individual
Pendekatan
individual merupakan pendekatan langsung dilakukan guru terhadap anak didiknya
untuk memecahkan kasus anak didiknya tersebut. Pendekatan individual mempunyai
arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat
memerlukan pendekatan individual ini. Pemilihan metode tidak bisa begitu saja
mengabaikan kegunaan pendekatan individual, sehingga guru dalam melaksanakan
tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas.
Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan menggunakan
pendekatan individual, walaupun suatu saat pendekatan kelompok diperlukan.
Pembelajaran
individual merupakan salah satu Cara guru untuk membantu siswa
membelajarkan siswa, membantu merencanakan kegiatan belajar siswa sesuai dengan
kemampuan dan daya dukung yang dimiliki siswa. Pendekatan individual akan
melibatkan hubungan yang terbuka antara guru dan siswa, yang bertujuan untuk
menimbulkan perasaan bebas dalam belajar sehingga terjadi hubungan yang
harmonis antara guru dengan siswa dalam belajar. Untuk mencapai hal itu, guru
harus melakukan hal berikut ini:
a)
Mendengarkan
secara simpati dan menanggapi secara positif pikiran anak didik dan membuat
hubungan saling percaya.
b)
Membantu
anak didik dengan pendekatn verbal dan non-verbal.
c)
Membantu
anak didik tanpa harus mendominasi atau mengambil alih tugas.
d)
Menerima
perasaan anak didik sebagaimana adanya atau menerima perbedaannya dengan penuh
perhatian.
e)
Menanggani
anak didik dengan memberi rasa aman, penuh pengertian, bantuan, dan mungkin
memberi beberapa alternatif pemecahan.
Ciri-ciri pendekatan individual :
a)
Guru
melakukan pendekatan secara pribadi kepada setiap siswa di kelas dan memberikan
kesempatan kepada anak didik sebagai individu untuk akatif, kreatif, dan
mandiri dalam belajar.
b)
Guru harus
peka melihat perbedaan sifat-sifat dari semua anak didik secara individual.
c)
Guru lebih
berperan sebagai fasilitator dan pembimbing di kelas. Para peserta didik dapat
lebih terkontrol mengenai, bagaimana dan apa yang mereka pelajari.
d)
Guru harus
mampu mennyajikan pelajaran yang menarik di depan kelas. Menarik dalam
pengertian mengasyikkan, mudah ditangkap dan dipahami serta tidak membosankan
siswa. Pengajaran individual dilakukan untuk membantu siswa dalam menuntaskan
belajar mereka.
Oleh karena
itu, pendekatan individual dapat mengefektifkan proses belajar mengajar,
interaksi guru dan siswa berjalan dengan baik, dan terjadinya hubungan pribadi
yang menyenangkan antara siswa dan guru. Secara tidak langsung hal yang disebut
diatas merupakan keuntungan dari pengajaran dengan pendekatan individual.
Keuntungan dari pengajaran pendekatan individual yaitu:
a)
Memungkin
siswa yang lama dapat maju menurut kemampuannya masing-masing secara penuh dan
tepat.
b)
Mencegah
terjadinya ilusi dalam kemajuan tetapi bersifat nyata melalui diskusi kelompok.
c)
Mengarahkan perhatian siswa terhadap
hasil belajar perorangan.
d)
Memusatkan
pengajaran terhadap mata ajaran dan pertumbuhan yang bersifat mendidik, bukan
kepada tuntutan-tuntutan guru.
e)
Memberi
peluang siswa untuk maju secara optimal dan mengembangkan kemampuan yang
dimilikinya.
f)
Latihan-latihan
tidak diperlukan bagi anak yang cerdas, karena dapat menimbulkan kebiasaan dan
merasa puas dengan hasil belajar yang ada.
g)
Menumbuhkan
hubungan pribadi yang menyenangkan siswa dan guru.
h)
Memberi
kesempatan bagi para siswa yang pandai untuk melatih inisiatif berbuat yang
lebih baik.
i)
Mengurangi
hambatan dan mencegah eliminasi terhadap para siwa yang tergolong lamban.
Sedangkan
kelemahan pembelajaran pendekatan individual sebagai berikut dapat dilihat
secara umum dan khusus. Kelemahan secara umum:
a)
Proses
pembelajaran relative memakan banyak waktu sesuai dengan jumlah bahan yang
dihadapi dan jumlah peserta didik.
b)
Motivasi
siswa mungkin sulit dipertahankan karena perbedaan-perbedaan individual yang
dimiliki oleh peserta didik sehingga dapat membuat beberapa siswa rendah
diri/minder dalam pembelajaran.
c)
Adanya
penggunaan pasangan guru dan siswa dalam manajemen kelas regular secara
perorangan, sehingga terjadi kemungkinan sebagaian peserta didik tidak dapat
dikelola dengan baik.
Guru-guru
yang sudah terbiasa dengan Cara-cara lama akan mengalami hambatan
untuk menyelenggarakan pendekatan ini karena menuntut kesabaran dan penguasaan
materi secara lebih luas dan menyeluruh.
2.
Pendekatan Kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar
terkadang ada juga guru yang menggunakan pendekatan lain, yakni pendekatan
kelompok. Pendekatan kelompok memang suatu waktu diperlukan dan perlu digunakan
untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini disadari bahwa
anak didik adalah sejenis makhluk homo socius, yakni makhluk yang berkecenderungan
untuk hidup bersama.
Dengan pendekatan kelompok,
diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa so sial yang tinggi pada diri setiap
anak didik. Mereka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada dalam diri
mereka masing-masing, sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.
Tentu saja sikap ini pad a hal-hal yang baik saja. Mereka sadar bahwa hidup ini
saling ketergantungan, seperti ekosistem dalam mata rantai kehidupan semua
makhluk hidup di dunia. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri
sendiri tanpa keterlibatan makhluk lain, langsung atau tidak langsung, disadari
atau tidak, makhluk lain itu ikut ambil bagian dalam kehidupan makhluk
tertentu.
Anak didik dibiasakan hidup bersama,
bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan
kelebihan. Yang mempunyai kelebihan dengan ikhlas mau membantu mereka yang mempunyai
kekurangan. Sebaliknya, mereka yang mempunyai kekurangan dengan rela hati mau
belajar dari mereka yang mempunyai kelebihan, tanpa ada rasa minder. Persaingan
yang positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar
yang optimal. Inilah yang diharapkan, yakni anak didik yang aktif, kreatif, dan
mandiri.
Ketika guru ingin menggunakan
pendekatan kelompok, maka guru harus sudah mempertimbangkan bahwa hal itu tidak
bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode yang akan
dipakai sudah dikuasai, dan bahan yang akan diberikan kepada anak didik memang
cocok didekati dengan pendekatan kelompok. Karena itu,pendekatan kelompok tidak
bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mempertimbangkan hal-hal lain
yang ikut mempengaruhi penggunaannya.
Beberapa pengarang mengatakan,
keakraban atau kesatuan kelompok ditentukan oleh tarikan-tarikan interpersonal,
atau saling menyukai satu sama lain. Yang mempunyai kecenderungan menamakan
keakraban sebagai tarikan kelompok adalah merupakan satu-satunya faktor yang
menyebabkan kelompok bersatu.
Keakraban kelompok ditentukan oleh
beberapa faktor, yaitu:
a) Perasaan diterima atau disukai teman-teman;
b) Tarikan kelompok;
c) Teknik pengelompokan oleh guru;
d) Partisipasilketeriibatan dalam kelompok;
e) Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara
mencapainya;
f) Struktur dan sifat-sifat kelompok. Sedang sifat-sifat
kelompok itu adalah:
g) Suatu multi personalia dengan tingkatan keakraban tertentu;
h) Suatu sistem interaksi;
i)
Suatu organisasi atau struktur;
j)
Merupakan suatu motif tertentu dan
tujuan bersama;
k) Merupakan suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu;
l)
Pola perilaku yang dapat diobservasi
yang disebut kepribadian.
3.
Pendekatan Bervariasi
Ketika guru dihadapkan kepada
permasalahan anak didik yang bermasalah, maka guru akan berhadapan dengan
permasalahan anak didik yang bervariasi. Setiap masalah yang dihadapi oleh anak
didik tidak selalu sama, terkadang ada perbedaan.
Dalam belajar, anak didik mempunyai
motivasi yang berbeda. Pada satu sisi anak didik memiliki motivasi yang rendah,
tetapi pada saat lain anak didik mempunyai motivasi yang tinggi. Anak didik
yang satu bergairah belajar, anak didik yang lain kurang bergairah belajar.
Sementara sebagian besar anak belajar, satu atau dua orang anak tidak ikut
belajar. Mereka duduk dan berbicara (berbincang-bincang) satu sama lain tentang
hal hal lain yang terlepas dari masalah pelajaran.
Dalam mengajar, guru yang hanya
menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif
dalam waktu Relatif lama. Bila tetjadi perubahan suasana kelas, sulit
menormalkannya kembali. Ini sebagai tanda adanya gangguan dalam proses belajar
mengajar. Akibatnya.jalannya peJajaran kurang menjadi efektif. Efisiensi dan
efektivitas pencapaian tujuan punjadi terganggu, disebabkan anak didik kurang
mampu berkonsentrasi. Metode yang hanya satu-satunya dipergunakan tidak dapat
diperankan, karena memang gangguan itu terpangkal dari kelemahan metode terse but.
karena itu, dalam mengajar kebanyakan guru menggunakan beberapa metode dan
jarang sekali menggunakan satu metode.
Dalam kegiatan belajar mengajar,
guru bisa saja membagi anak didik ke dalam beberapa kelompok belajar. Tetapi
dalam hal ini, terkadang diperJukan juga pendapat dan kemauan anak didik.
Bagaimana keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada
anak didik yang suka belajar dalam kelompok, tetapi ada juga anak didik yang
senang belajar sendiri. Bila hal ini terjadi, maka ada dua kemungkinan yang
terjadi yaitu, belajar dalam kelompok dan belajar sendiri, terlepas dari
kelompok, tetapi masih dalam pengawasan dan bimbingan guru.
Permasalahan yang dihadapi oleh
setiap anak didik biasanya bervariasi, maka pendekatan yang digunakan pun akan
lebih tepat dengan pendekatan bervariasi pula. Misalnya, anak didik yang tidak
disiplin dan anak didik yang suka berbicara akan berbeda pemecahannya dan
menghendaki pendekatan yang berbeda-beda pula. Demikian juga halnya terhadapa
anak didik yang membuat keributan. Guru tidak bisa menggunakan teknik pemecahan
yang sama untuk memecahkan permasalahan yang lain. Kalaupun ada, itu hanya pada
kasus tertentu. Perbedaan dalam teknik pemecahan kasus itulah dalam pembicaraan
ini didekati dengan "pendekatan bervariasi. "
Pendekatan bervariasi bertolak dari
konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar
bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai
motif, sehingga diperiukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka
kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk
kepentingan pengajaran.
4.
Pendekatan Edukatif
Apa pun yang guru lakukan dalam
pendidikan dan pengajaran dengan tujuan untuk mendidik, bukan karena
motif-motif1ain, seperti dendam, gengsi, ingin ditakuti, dan sebagainya.
Anak didik yang telah melakukan
kesalahan, yakni membuat keributan di kelas ketika guru sedang memberikan
pelajaran, misalnya, tidak tepat diberikan sanksi hukum dengan cara memukul
badannya hingga luka atau cidera. Ini adalah tindakan sanksi hukum yang tidak
bernilai pendidikan. Guru telah melakukan pendekatan yang salah. Guru telah
menggunakan teori power, yakni teori kekuasaan untuk menundukkan orang lain.
Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan
kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan
kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan
pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap, dan perbuatan yang guru lakukan
harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar
menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, noram sosial, dan norma
agama.
Cukup banyak sikap dan perbuatan
yang harus guru lakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak
didik. Salah satu contohnya, misalnya, ketika lonceng tanda masuk kelas telah
berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan masuk dulu, tetapi suruhlah mereka bebaris
di depan pintu masuk dan perintahkanlah ketua kelas untuk mengatur barisan.
Semua anak perempuan berbaris dalam kelompok jenisnya. Demikian juga semua anak
laki-laki, berbaris dalam kelompok sejenisnya. Jadi, barisan dibentuk menjadi
dua dengan pandangan terarah ke pintu masuk. Di sisi pintu masuk guru berdiri
sambi! mengontrol bagaimana anak-anak berbaris di depan pintu masuk kelas.
Semua anak dipersilakan masuk oleh ketua kelas. Mereka pun satu per satu masuk
kelas, mereka satu per satu menyalami guru dan mencium tangan guru sebelum
dilepas. Akhirnya, semua anak masuk dan pelajaran pun dimulai.
Contoh di atas menggambarkan
pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru dengan menyuruh anak didik
berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah meletakkan tujuan untuk membina
watak anak didik dengan pendidikan akhlak yang mulia. Guru telah membimbing
anak didik, bagaimana cara memimpin kawan-kawannya dan anak-anak lainnya,
membina bagaimana cara menghargai orang lain dengan cara mematuhi semua
perintahnya yang bernilai kebaikan. Betapa baiknya jika semua sekolah (TK, SO atau
SLTP) melakukan hal yang demikian itu. Mungkin kewibawaan guru yang dirasakan
mulai memudar sekarang ini dapat dimunculkan kembali dan tetap melekat pada
pribadi guru. Sekaranglah saatnya mengedepankan pendidikan kepribadian kepada
anak didik dan jangan hanya pendidikan intelektual serta keterampilan semata,
karena akan menyebabkan anak tumbuh sebagai seorang intelektual atau ilmuwan
yang berpribadi kering.
Guru yang hanya mengajar di kelas,
belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia.
Demikian juga halnya dengan guru yang mengambil jarak dengan anak didik.
Kerawanan hubungan guru dengan anak didik disebabkan komunikasi antara guru
dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi
kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang
bermasalah. Guru yang jarang bergaul dengan anak didik dan tidak mau tahu
dengan masalah yang dirasakan anak didik, membuat anak didik apatis dan
tertutup atas apa yang dirasakannya. Sikap guru yang demikian kurang dibenarkan
dalam pendidikan, karena menyebabkan anak didik menjadi orang yang introver
(tertutup).
Kasuistis yang terjadi di sekolah
biasanya tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam jenis dan tingkat
kesukarannya. Hal ini menghendaki pendekatan yang tepat. Berbagai kasus yang
terjadi, selain ada yang dapat didekati dengan pendekatan individual,adajuga
yang dapat didekati dengan pendekatan kelompok, dan ada pula yang dapat
didekati dengan pendekatan bervariasi. Namun yang penting untuk diingat adalah
bahwa pendekatan individual harus berdampingan dengan pendekatan edukatif;
pendekatan kelompok harus berdampingan dengan pendekatan edukatif, dan
pendekatan bervariasi harus berdampingan dengan pendekatan edukatif. Dengan
demikian, semua pendekatan yang dilakukan guru harus bemilai edukatif, dengan
tujuan untuk mendidik. Tindakan guru karena dendam, marah, kesal, benci, dan
sejenisnyabukanlah termasuk perbuatan mendidik, karena apa yang guru lakukan
itu menurutkan kata hati atau untuk memuaskan hati.
Selain berbagai pendekatan yang
disebutkan di depan, ada lagi pendekatan-pendekatan lain. Berdasarakan
kurikulum atau Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Pendidikan Agama
Islam SLTP Tahun 1994 disebutkan lima macampendekatan untuk pendidikan agama
Islam, yaitu pendekatan pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan
emosional, pendekatan rasional, dan pendekatan fungsional. Kelima macam
pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum
dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya
saling menunjang dan saling melengkapi. Kelima pendekatan tersebut dijelaskan
sebagai berikut:
1. Pendekatan Pengalaman
Experience
is the best teacher, pengalaman adalah guru yang terbaik. Pengalaman adalah
guru bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa,
namun selalu dicari oleh siapa punjuga. Belajar dari pengalaman adalah lebih
baik daripada sekadar bicara, dan tidak pemah berbuat sama sekali. Belajar
adalah kenyataan yang ditunjukkan dengan kegiatan fisiko Karena itu, the proses
of learning is doing, reacting, undergoing, experiencing. The products of
learning are all achieved by the learner through his own activity. (H.C.
Witherington dan W.H. Burton, 1986: 57).
Meskipun
pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup, namun tidak semua
pengalaman tidak bersifat mendidik (edukative ex perience), karena ada
pengalaman yang tidak bersifat mendidik (misedukative experience). Suatu
pengalaman dikatakan tidak mendidik, jika guru tidak membawa anak ke arah
tujuan pendidikan, akan tetapi menyelewengkan dari tujuan itu, misalnya
"mendidik anak menjadi pencopet." Karena itu, ciri-ciripengalaman
yang edukatif adalah berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak
(meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaktif dengan lingkungan, dan
menambah integrasi anak. Demikianlah pendapat Witherington.
2.
Pendekatan
Pembiasaan
Pembiasaan
adalah alat pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, pembiasaan ini sangat
penting. Karena denganpembiasaan itulahakhimya suatu aktivitas akan menjadi
milik anak di kemudian hari. Pembiasaan yang baik akan membentuk suatu sosok
manusia yang berkepribadian yang baik pula. Sebaliknya, pembiasaan yang buruk
akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian yang buruk pula. Begitulah
biasanya yang terlihat dan yang terjadi pada diri seseorang. Karenanya, di
dalam kehidupan bermasyarakat,kedua kepribadian yang bertentanganini selalu ada
dan tidak jarang terjadi konflik di antara mereka.
Anak
kecil tidak seperti orang dewasa yang dapat berpikir abstrak. Anak kecil hanya
dapat berpikir konkret Kata-kata seperti kebijaksanaan, keadilan, dan
perumpamaan,adalah contoh kata benda abstrakyang sukar dipikirkanoleh anak.
Anak kecil belum kuat ingatannya,ia lekasmelupakan apa yang sudah dan baru
terjadi. Perhatian mereka lekas dan mudah beralih kepada hal-hal yang baru,
yang lain, yang disukainya. (M. Ngalim Purwanto, 1991:224).
3.
Pendekatan
Emosional
Emosi
adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan
dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan pasti dapat
merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniah. Perasaan
rohaniah di dalamnya ada perasaan intelektual, perasaan estetis, perasaan etis,
perasaan sosial, dan perasaan harga diri. Menurut Chalijah Hasan (1994: 39)
merasa adalah aktualisasi kerja dari hati sebagai materi dalam struktur tubuh
manusia, dan merasa sebagai aktivitas kejiwaan ini adalah suatu pemyataan jiwa
yang bersifat subjektif. Hal ini dilakukan dengan mengemukakan suatu kesan
senang atau tidak senang, dan umumnya tidak tergantung pada pengamatan yang dilakukan
oleh indra.
Perasaan,
menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (l991: 36), sebagai fungsi jiwa untuk
dapat mempertimbangkan dan mengukur sesuatu menurut "rasa senang dan tidak
senang", mempunyai sifat-sifat senang dan sedih/tidak senang, kuat dan
lemah, lama dan sebentar, relatif, dan tidak berdiri sendiri sebagai pemyataan
jiwa.
4.
Pendekatan
Rasional
Manusia
adalah makhluk yang diciptakan oleh sang Maha Pencipta, yaitu Allah swt.
Manusia adalah makhluk yang sempuma diciptakan. Manusia berbeda dengan makhluk
lainnya yang diciptakan oleh Tuhan. Perbedaannya terletak pada akal Manusia
mempunyai akal, sedangkan makhluk lainnya seperti binatang dan sejenisnya tidak
mempunyai aka!. Jadi, hanya manusialah yang dapat berpikir, sedangkan makhluk
lainnya tidak mampu berpikir.
Dengan
kekuatan akalnya manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana
perbuatan yang buruk, mana kebenaran dan mana kedustaan dari sesuatu ajaran
atau perbuatan. Dengan akal pula dapat membuktikan dan membenarkan adanya Tuhan
Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta atas segala sesuatu di dunia ini. Walaupun
disadari keterbatasan akal untuk memikirkan dan memecahkan sesuatu, tetapi
diyakini pula bahwa dengan akal dapat dicapai ketinggian ilmu pengetahuan dan
penghasilan teknologi modern. Itulah sebabnya manusia dikatakan sebagai homo
sapien,semacam makhluk yang berkecenderungan untuk berpikir.
5.
Pendekatan
Fungsional
Ilmu
pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekadar pengisi
otak, tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik sebagai individu
maupun sebagai makhluk sosia!. Anak dapat memanfaatkan ilmunya untuk kehidupan
sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangannya. Bahkan yang lebih penting
adalah ilmu pengetahuan dapat membentuk kepribadian anak. Anak dapat merasakan
manfaat dari ilmu yang didapatnya di sekolah. Anak mendayagunakan nilai guna
dari suatu ilmu sudah fungsional di dalam diri anak.
Pelajaran
agama yang diberikan di kelas bukan hanya untuk memberantas kebodohan dan
pengisi kekosongan intelektual, tetapi untuk diimplementasikan ke dalam
kehidupan sehari-hari. Hal yangdemikian itulah yang pada akhimya hendak dicapai
oleh tujuan pendidikan agama di sekolah dalam berbagaijenis dan tingkatan.
Karena itu, kurikulum pun disusun sesuai dengan kebutuhan siswa di masyarakat.
5.
Pendekatan
Keagamaan
Pendidikan dan pelajaran di sekolah
tidak hanya memberikan satu atau dua macam mata pelajaran, tetapi terdiri dari
banyak mata pelajaran. Semua mata pelajaran itu pada umumnya dapat dibagi
menjadi mala pe/ajaran umum dan mala pelajaran agama_ Berbagai pendekatan dalam
pembahasan terdahulu dapat digunakan untuk keduajenis mata pelajaran ini. Tentu
saja penggunaannya tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran yang dicapai. Dalam praktiknya tidak hanya digunakan satu, tetapi
bisa juga penggabungan dua atau lebih pendekatan.
Khususnya untuk mata pelajaran umum,
sangat berkepentingan dengan pendekatan keagamaan. Hal lni dimaksudkan agar
nilai budaya ilmu itu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Dengan
penerapan prinsip-prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi,
guru dapat menyisipkan pesan-pesan keagamaan untuk semua mata pelajaran umum.
Tentu saja guru harus menguasai ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan mata
pelajaran yang dipegang. Mata pelajaran biologi, misalnya, bukan terpisah dari
masalah agama, tetapi ada hubungannya. Cukup banyak dalil agama yang membahas
masalah biologi. Persoalannya sekarang terletak, mau atau tidaknya guru mata
pelajaran tersebut mencari dan menggali dalil-dalil dimaksud dan menafsirkannya
guna mendukung penggunaan pendekatan keagamaan dalam pendidikan dan pengajaran.
Surah Yaasiin, ayat 34, dan ayat 36, adalah bukti nyata bahwa pelajaran biologi
tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Surah Yaasiin ayat 37, 38,39, dan 40
adalah dalil-dalil nyata pendukung pendekatan keagamaan dalam mata pelajaran
fisika.
Akhirnya, pendekatan agama dapat
membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang
pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemoohkan dan dilecehkan, tetapi diya
kini, dipahami, dihayati, dan diamalkan selama hayat siswa di kandung badan.
6.
Pendekatan
Kebermaknaan
Bahasa adalah alat untuk
menyampaikan dan memahami gagasan pikiran, pendapat, dan perasaan, secara lisan
maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang
dianggap penting untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni budaya, dan pembinaan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.
Dalam rangka penguasaan bahasa
Ingrris tidak bisa mengabaikan masalah pendekatan yang harus digunakan dalam
proses belajar mengajar. Kegagalan penguasaan bahasa Inggris oleh siswa, salah
satu sebabnya adalah kurang tepatnya pendekatan yang digunakan oleh guru selain
faktor lain seperti faktor sejarah, fasilitas, dan lingkungan serta kompetensi
guru itu sendiri. Kegagalan pengajaran tersebut tentu saja tidak boleh
dibiarkan begitu saja, karena akan menjadi masalah bagi siswa dalam setiap
jenjang pendidikan yang dimasukinya. Karenanya perlu dipecahkan. Salah satu
altematifke arah pemecahan masalah terse but diajukanlah pendekatan baru, yaitu
pendekatan kebermaknaan. Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan ini
diuraikan sebagai berikut:
a)
Bahasa merupakan alat untuk
mengungkapkan makna yang diwujudkan malalui struktur (tata bahasa dan kosa
kata). Dengan demikian, struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna
(gagasan, pikiran, pendapat, dan perasaan).
b)
Makna ditentukan oleh lingkup
kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan
kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural, didukung oleh pemahaman lintas
budaya.
c)
Makna dapat diwujudkan melalui
kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tertulis. Suatu kalimatdapat
mempunyai makna yang berbeda tergantung pada situasi saat kalimat itu
digunakan. Jadi keragaman ujaran diakui keberadaannya dalam bentuk bahasa lisan
atau tertulis.
d)
Belajar bahasa asing adalah belajar
berkomunikasi melalui bahasa tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik secara
lisan maupun tertulis. Belajar berkomunikasi ini perlu didukung oleh
pembelajaran unsur unsur bahasa sasaran.
e)
Motivasi belajar siswa merupakan
faktor utama yang menentukan keberhasilan belajamya. Kadar motivasi ini banyak
ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran
memiliki siswa yang bersangkutan. Dengan kata lain, kebermaknaan bahan
pelajaran dan kegiatan pembelajaran memiliki peranan yang amat penting dalam
keberhasilan belajar siswa.
f)
Bahan pelajaran dan kegiatan
pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswajika berhubungan dengan
pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya. Karena itu, pengalaman siswa
dalam lingkungan, minat, tata nilai, dan masa depannya harus dijadikan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan pengajaran dan pembelajaran untuk membuat
pelajaran lebih bermakna bagi siswa.
g)
Dalam proses belajar-mengajar, siswa
merupakan subjek utama, tidak hanya sebagai objek belaka. Karena itu, ciri-ciri
dan kebutuhan mereka harus dipertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait
dengan pengajaran.
h)
Dalam proses belajar-mengajar guru
berperan sebagai fasilitatoryang membantu siswa mengembangkan keterampilan
berbahasanya.
BAB III
PENUTUPAN
A.
Kesimpulan
1. Pendekatan
dalam pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan agar
konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan sisiwa.
2. Pendekatan
dalam pembelajaran mempunyai 5 fungsi.
3. Pendekatan
dalam pembelajaran mempunyai beberapa jenis, yaitu :
a.
Pendekatan individu
b.
Pendekatan kelompok
c.
Pendekatan bervariasi
d.
Pendekatan edukatif
e.
Pendekatan keagamaan
f.
Pendekatan kebermaknaan
B.
Saran
Sebagai
calon pendidik, harus tahu dan mampu melaksanakan tugas dalam kelas dengan baik
dan berkualitas. Oleh karena itu calon pendidik harus memiliki pengetahuan yang
memadai tentang pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Dalam proses pembelajaran, sebaiknya pendekatan
pembelajaran tidak berpatok pada satu pendekatan tertentu saja, tetapi
pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam suatu
perancangan pembelajaran.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar